Saya anak Compassion part I

Tidak kusangka, hanya dari sebuah blog: alumnicompassion.blogspot.com, saya bertemu dengan Bp. Tonny dan Bp.Arya dua orang staff compassion Indonesia. Pengalaman yang sangat berkesan, dimana saya kembali terseret mundur dalam memori jauh di tahun-tahun yang lalu, semasa saya menjadi salah satu anak ‘miskin’ yang dibina oleh Yayasan Compassion Indonesia.

Bermula dari hobi ngeblog, saya coba beberapa konsep tentang blog saya. Dari mencoba dengan tema pribadi, traveling, konseling, pendidikan, rohani, dan terakhir adalah tentang alumni compassion Indonesia. Saya merasa belum sukses dengan karya blog saya, yah meskipun saya sadar betul bahwa saya pemula dalam tulis menulis di dunia maya. Blog-blog tersebut saya anggap belajar menulis dan mencoba menampung ‘luberan kata-kata’ di otak saya. Setiap tema dan kata yang tertuang di dalam blog-blog itu tidak ada maksud yang jelas. Kecuali blog yang terakhir ini, ada visi di dalamnya.

Saya terbesit ide untuk membuat sebuah blog dengan nama: alumni of compassion Indonesia, oleh karena terdorong rasa ingin menyalurkan kebaikan yang sudah saya terima dari Tuhan melalui compassion. Ada banyak hal yang tidak terhitung yang sudah saya terima dari compassion, tidak hanya subsidi financial dalam kebutuhan pendidikan , juga tentang karakter, kasih, dan religiusitas.

Lebih dari 12 tahun saya menjadi binaan compassion Indonesia, dari tahun 1991-2002 saya telah dibantu dalam berbagai sisi kehidupan saya. Tahun demi tahun, saya tidak pernah lekang dari bantuan compassion. Saya ingat sponsor saya, pertama Mr. James Gibson dan kedua, Ms. Ann Little. Banyak kesan yang saya dapat dari surat-surat beliau. Saat itu saya masih kecil, saya senang apabila menerima surat dari sponsor saya. Surat itu bercerita tentang kehidupan yang ada di jauh sana. Saya membaca tentang pergantian musim, kehidupan, perayaan hari natal, yang saya ingat adalah sering ditanya ‘bagaimana sekolahmu?’. Saya tertarik, saya merasa bahwa kita mencoba saling mendekatkan diri. Meskipun masih terasa ada jarak antara saya dan sponsor saya. Jarak itu entah saya namakan apa, tapi jarak itu menjadi sebuah basa-basi yang tidak kunjung habis. Tapi tetap saja saya menikmatinya, seolah saya mendapatkan balon berwana hijau yang saya inginkan.

***

Semasa saya kecil, miskin dan bodoh (meskipun sekarang masih J) kehidupan saya sebenarnya pas-pasan (pas butuh pas ga ada J). Saya merasa seperti pecundang kecil yang hidup sia-sia, dan ini terus sampai saya remaja. Saya menjadi pengagum teman sebaya saya yang lain. Teman sebaya yang saya kagumi yang memakai sepatu gaul saat sekolah, dan berbicara produk terbaru dari berbagai merek baju yang paling gaul saat itu. Saya merasa bukan bagian dari mereka dan merasa saya tidak bisa diterima di dunia mereka. Saya anggap kehidupan ini sebagai kehidupan rendah, saya pun bilang ‘hey hidupku tidak se-simple yang kamu bayangkan’.

Ada rasa bahwa sebuah batu yang teramat besar yang ada di pundak saya. Batu besar itu namanya ‘rendah diri’. Saya harus menanggungnya karena saya merasa dalam kuadran miskin, bodoh, dan merasa tidak sebaik yang lain. “saya siapa sih” menjadi sebuah ganjalan besar dalam saya berusaha meyakini diri bahwa saya juga bisa. Batu ini ternyata tetap besar hingga saya menempatkan diri bahwa seharusnya berada bersama mereka yang sama dengan saya, menanggung batu yang sama. Orang-orang itu adalah orang tidak mempunyai harapan, miskin, bodoh, tidak tahu siapa dirinya. Perasaan itu terus saya sangkal. Saya tidak mau sadar diri, hingga saya tidak bisa mengatakan hal ini: “ouw ternyata saya miskin dan saya harus berbuat sesuatu”. Berat sungguh berat dalam kehidupan kelam itu. Seolah harapan saya terampas, benar-benar di lingkup paradigma yang pesimis adanya.

Atmosphere kelam ini terus ada dalam diri saya, hingga di suatu ketika saya merasa bisa melakukan sesuatu untuk orang lain. Kemudian saya bisa melakukan sesuatu untuk orang lain, dan hal itu kecil adanya tetapi bisa menolong saya melepaskan batu itu. Batu besar yang saya pikul saya lepaskan dengan berbuat untuk sesama di compassion.

Saya melakukan perbuatan kecil untuk teman saya di compassion, melalui youth cluster salatiga. Banyak kesalahan, kebodohan, kekurangan selama saya terlibat di dalamnya. Tapi pengaruh besar saya peroleh dengan membantu orang lain, dan benar-benar menyelamatkan saya. Dengan berbuat baik kepada orang lain sama saja kita telah menanam bibit kebaikan untuk diri kita sendiri. Perbuatan baik menambal bolong-bolong rendah diri dan pessimistic saya.

Dan saya kembali mempunyai harapan, sungguh harapan baru. Apabila saya bisa berbuat untuk orang lain saya pasti bisa berbuat hal-hal kecil untuk diri saya sendiri.

***

Saya adalah seseorang yang menerima mujizat, dan itu sungguh nyata. Kesadaran ini saya dapatkan setelah saya selesai dari compassion. Dulunya saya hanya sebagai anak biasa yang menikmati berkat biasa, yang seperti burung yang diperlihara, setiap hari diberi makan dan berlimpah berkat tapi tidak pernah sadar bagaimana berkat itu datang kepadanya. Saat masih kecil pikiran saya hanya sampai “berkat adalah berkat, nikmati saja”. Sungguh kecil rasa syukur yang ada pada saya, saya tidak pernah tahu dari mana datangnya berkat ini, oleh karena apa, dan bagaimana bisa sampai ke tangan saya sama sekali tidak terlintas. Saya anggap hidup mengalir, tentu Tuhan memelihara, dan sudah pasti Tuhan akan memelihara.

Sungguh luar biasa pemeliharaan Tuhan atas hidup saya. Berkat Tuhan tidak pernah terduga, sungguh tidak terduga bagaimana berkat itu datang, kapan dan melalui siapa. Saya juga tidak pernah menduga akan menerima mujizat ini, atau menjadi bagian dari compassion.

Kesadaran ini muncul ketika saya mencoba berpikir meposisikan diri saya sebagai seorang sponsor bagi seorang anak. Dengan motivasi apa, saya merelakan sejumlah uang untuk diberikan kepada seorang anak untuk mencoba lepas dari belenggunya. Dan kemudian kenapa saya (seorang sponsor) terdorong memilih salah satu anak. Beribu asumsi muncul, mungkin sponsor itu merasa iba kepada anak miskin, atau bahkan sponsor itu merasa kelebihan uang, dan bahkan bisa jadi untuk sebuah gengsi atau prestise, tapi satu alasan yang saya anggap benar yaitu; saya yakin sponsor terdorong memberi uang dengan alasan mengubah kehidupan seseorang.

Dah bukan rencana saya ataupun saya pernah menduga bahwa saya akan mendapat sponsor. Entah bagaimana logikanya saya bisa disponsori, dan saya pikir kehidupan saya ini tidak pernah bisa dilogika, karena kehidupan saya ini adalah tentang Mujizat.

Suatu saat di dalam sebuah bus dalam perjalanan luar kota saya, di dalam bus itu sepi. Saya memandang kearah luar bus, saya pandangi jauh melebihi daripada kaca itu. Di otak saya berpikir tentang kehidupan, dan kehidupan yang saya pikirkan adalah kehidupan saya sendiri. Saya berpikir dan terus berpikir, saya tidak bisa menemukan bagaimana saya bisa menjadi seperti sekarang ini, dengan kehidupan yang lebih dari yang saya harapkan. Kehidupan yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Bagaimana saya anak yang miskin yang sudah tentu lekat dengan persepsi bodoh, malas dan nakal dapat ber-transformasi menjadi seseorang dengan pembaruan harapan.

Banyak kata yang terlintas dalam benak saya. Kata itu baik, tapi kadang kata itu juga buruk. Kata buruk itu berkata saya hidup untuk mengejar uang untuk benar-benar lepas dari kemiskinan (bahasa orang pintar, financial freedom), tapi satu sisi hati yang lain berkata tentang hal yang baik, yaitu dari mana saya mendapatkan kehidupan saya ini. Dari mana dan dari mana dan dari mana terus muncul, saya pikir tidak ada jawaban yang lebih tepat selain dari KASIH. Kasih menyelamatkan saya, tentu kasih Tuhan melalui orang-orang yang mendukung saya-termasuk compassion.

Kehidupan ini saya diselamatkan kasih, oleh mereka pengantar kasih bagi saya. Saya sadar bahwa kehidupan saya tidak akan jadi apapun yang baik tanpa kasih itu. Dan sungguh luar biasa orang-orang yang berani menyampaikan kasih pada saya. Hidup saya oleh kasih, dan kasih ini telah menancap pada saya. Hingga saya berpikir bahwa kasih ini tidak boleh hanya berhenti sampai di tanganku. Kasih ini harus terus dan selalu disampaikan kepada orang lain yang memerlukan kasih. Saya bilang kehidupan ini bukan milik saya tapi sudah menjadi milik Sang Sumber Kasih -Tuhan. Saya tidak berhak untuk menge-klaim kehidupan ini, karena kehidupan saya ada kasih. Sehingga saya sadar bahwa saya harus menghantarkan kasih bagi orang lain. Kasih ini adalah mujizat, dan saya akan berusaha untuk memberikan kasih kepada mereka yang memerlukan. Meskipun rasa cinta diri akan terus ada untuk menggoda, tapi saya percaya api kasih akan selalu ada untuk membakar saya untuk senantiasa semangat untuk menghantar kasih.

***


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

AddThis Social Bookmark Button

18 Responses to “Saya anak Compassion part I”

  1. Bravo bro!!!!maju terus bro ngutik laptopnya, meskipun cuma celeron tp outputnya dualcore double gardan……. yah sedikit tulisan lo banyak jg g alamin, lebih ekstrim malah coz g nglewatinya di big city. there’s still a big hole that undiscover inside me yet. N slamet buat compassion blog nya…lanjutkan dengan copy darat biar pada atensi….GBU bro…a bright star guiging you!!!!

  2. Hengky Wijaya Says:

    Saya senang dengan Obed Agung Nugroho.Sama dengan beliau ,saya pernah merasakan bantuan Compassion Indonesia dari tahun 1989-2002.Saya masih ingat orang tua asuh yg membiayai saya saat itu adalah Mr.Steve Mc Clure dari AS.mulai dari beliau masih bujangan hingga beliau akhirnya menikah dengan Ms.Dottie Schrock.Bertahun-tahun saya mencari terus keberadaan Compassion Indonesia dan para alumninya.Dan baru hari ini Tuhan jawab Doa saya.Saya sangat bersyukur,dan saya berharap untuk bisa terlibat dalam segala pergerakan Compassion Indonesia.Saat ini saya bersama-sama dengan teman2 yang mempunyai visi mengentaskan kemiskinan & mendahulukan pendidikan diatas segalanya,juga melakukan pelayanan yang sama di daerah Tangerang.Saya sangat berharap jika kita mempunyai satu visi & misi yang sama,tidak ada salahnya kita bersatu bukan untuk memojokkan pemerintah kita tetapi berkarya untuk negri kita & masyarakat kita…Bravo
    HP : 0818-0896-6868
    021-91562486

  3. shalom… saya tahu bagaimana pelayanan compassion, karena saya punya banyak teman yang pernah menjadi asuhan compassion. pelayanan mereka sangat bagus dan pokoknya luar biasa…gerak pelayanan mereka yang bermuara pada kasih sangat menolong anak-anak. oleh karena itu saya sangat berminat untuk bisa menjalin kemitraan dengan mereka. kira-kira tahu bagaimana caranya/tahu alamat mereka untuk diwilayah timur. saya pelayanan di Timika-papua. disini Compasssion belum ada.kalau kiranya ada informasi atau kontak person yang bisa dihubungi tolong ya.

  4. shalom kak….
    aq jg alumni compassion tp sayang tdk seberuntng ka2k…
    krn org2 yg mengelola sll mengucilkan sy, membuat sy tdk bs berkmbng,,
    mbuat sy mjd ank yg sll rndh diri..
    knp????????
    krna sy org miskin tp sy pnya keinginan untk maju,,
    sy g mau cm jd boneka na org2,,
    sy pnya hak untuk maju
    bkn di kekang sesuai keinginan ppa…
    tp ini KESALAHAN bsr mnrt mrka krna mrka cm mo memperalat kami…
    tp mgkn yg laen g pernh sdr,,
    mmg g smwa sprti tu tp ada ppa yg sprti tu..

  5. yah memang compassion memang masih ada kekurangan kecil di sana sini, tapi bisa kita selami berkat yang diberikan Tuhan melalui compassion, yuk kita diskusi dan bangun jaringan alumni, please gabung di alumni_compassion_indonesia@yahoogroups.com
    Tuhan Memberkati

  6. Saya juga anak PPA loch,,suatu kebahagian klo Qt bisa menjadi bagian dari PPA itu sendiri….met kenal y bro!!!!GBU

  7. luar biasa…
    temen mungkin saya ga bisa jawab semua nya disini…
    tapi yuk gabung di mailing list
    alumni_compassion_indonesia@yahoogroups.com

  8. saya sangat terkesan terhadap pelayanan melalaui compassion yang dilakukan oleh gerefja-gereja di kediri, tetapi ternyata masih banyak anak-anak yang perlu ditolong, namun saya rindu mengetahuio, bagaimana caranya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program PPA ini dan kepada siapa , alamatnya dimana ? adakah yang berkenan membantu saya
    atas kebaiukannya saya sampaikan terima kasih, Tuhan memberkati

  9. thaddeus happy Says:

    Shalom…..kebetulan saya juga seorang yang yang terlibat dalam pelayanan di PPA IO-953. maju terus ya tetap setia dalam menjalani panggilan Tuhan yang sudah Tuhan tetapkan bagi kamu……..GBU

  10. Dear All,

    Nice to find some friends who are really blessed by Compassion, I’m one of person who got not only financial aid but also other blessings such as religious teaching and education assitance . Actually I once join for several years, but just because a certain reasons I have to leave… I had to be a non believer but later I was converted to a christian again…. (I know Christ Jesus is the Best…mates..)

    Best Regards,

  11. hai ak jga dlu ank PPA…
    tapi sekarang aku menjadi mentor PPA…
    seneng sekali basa mengajar di PPA…
    karena banyak anak2 yang butuh bantuan dari mentor2 yang akan mementor anak2… dlm spiritualnya,fisiknya,intelektualnya juga sosio emosionalnya… supaya membangun karakter mereka seperti karakternya kristus…

  12. Hay bed!
    Nice to see u…msh ingat ma sejawatmu ini? hehe.
    Tetap semangat dan jangan pernah menyerah dalam kondisi apapun.GBU

  13. !!!

  14. saya gembira sekaligus sedih dg PPA binaan YCI Bandung, lebih dari 70% anak-anak PPA adalah anak2 orang mampu yang “DIMISKINKAN” supaya program ini jalan…
    ibarat membangun rumah di atas pasir..
    kebohongan..oh kebohongan

  15. thanks ya mas sabar…
    tapi mas sabar kayaknya harus sabar juga…
    mas sabar dapat kesimpulan 70% itu dari mana?
    kalo pun mas sabar menemui kondisi seperti itu, belum berarti dapat menggeneralisir bahwa kondisi seutuhnya seperti mas ungkapkan.
    coba recek dulu, saat mengambil kesimpulan sebagai dasar opini harus punya dasar objektif.
    GBU

  16. David Tri Utomo Says:

    Salam dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
    Saya mewakili gereja saya di wilayah pinggiran surabaya, dimana keadaan jemaat disini mememlukan bantuan baik berupa pelayanan rohani dan jasmani, maka dengan rendah hati kami ingin bergabung pada PPA, bagaimana caranya mengadakan PPA di gereja kami, jika berkenan kami akan kirimkan data-data yang diperlukan selengkapnya. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

  17. gpps ebenhaezar karangan Says:

    Syaloom,…
    Salam Sejahtera dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
    Dengan kerendahan hati, saya mewakili gereja kami, untuk mengajukan bagaimana caranya menjalin kemitraan dengan YCI untuk mendirikan PPA ( Pusat Pengembangan Anak ) yang berada di naungan Yayasan Compassion Indonesia, di karenakan jemaat di gerja kami dan lingkungan sekitar kami, kurang lebih 125 anak, yang kami layani saat ini, sangat merindukan bantuan dan kerjasama dari YCI. Mohon dapatnya dibantu, jika berkenan kami akan kirimkan data-data yang diminta selengkapnya, dalam waktu dekat.Tuhan memberkati

  18. Just like Joseph.. yang mengalami banyak hal sebelum dia bisa menjadi penguasa yang luar biasa di Mesir, Tuhan ingin menunjukkan bahwa semua kesulitan hidup itu ada dalam kerangka masterpiece-nya; and Joseph was started with a DREAM! God still want to bring you further and higher, more than you could imagine.
    Be strong and take courage! :)
    God speed.

Leave a Reply